Tanggapan Terhadap Tulisan DR. Adian Husaini (Khilafah dan Demokrasi)

forkinroad copy

DR Adian Husaini, ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, membuat tulisan berjudul Khilafah dan Demokrasi, entah mungkin karena ramainya diskusi mengenai tema buletin Al Islam mengenai pilkada 9 Desember 2015.

Tulisan DR Adian Husaini pun mendapat tanggapan diantaranya dari Nopriadi Hermani, Ph.D yang tulisannya bisa dibaca disini, dan Arif bilah yang akan saya sajikan dibawah ini.

Baca lebih lanjut

Tanggapan atas Khilafah dan Demokrasi

normal_arroworange
Tulisan DR. Adian Husaini yang berjudul “Khilafah dan Demokrasi” sangat menarik untuk disimak. Sekilas saya lihat di media sosial, tulisan beliau sering diloper oleh mitra-mitra dakwah sebagai tameng untuk menangkis serangan terhadap demokrasi. Juga dijadikan senjata memperlemah pandangan bahwa khilafah dengan sistem Islam-nya sebagai solusi bagi persoalan kekinian. Nah, untuk memperkaya khazanah diskusi tentang demokrasi dan khilafah, izinkan saya yang dhaif ini urun pemikiran.  Saya ingin membuat tanggapan atas tulisan DR. Adian Husaini paragraf demi paragraf mengikuti poin-poin di tulisan beliau.

Baca lebih lanjut

Piagam Madinah

piagam madinah

Saat sudah menetap di Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai mengatur hubungan antar individu di Madinah. Berkait tujuan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis sebuah peraturan yang dikenal dengan sebutan Shahîfah atau kitâb atau lebih dikenal sekarang dengan sebutan watsîqah (piagam). Mengingat betapa penting piagam ini dalam menata masyarakat Madinah yang beraneka ragam, maka banyak ahli sejarah yang berusaha membahas dan meneliti piagam ini guna mengetahui strategi dan peraturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menata masyarakatnya. Baca lebih lanjut

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Tidak Menjawab Pertanyaan, Bila Tidak Tahu

jangan sok tahu

Salah satu sisi tanggung jawab akademis seorang guru (atau siapapun), tidak boleh berbicara pada masalah yang sama sekali buta tentangnya. Akibat buruk akan muncul di kemudian hari. Ia bisa menyesatkan, kalau materi itu berkaitan dengan agama, lantaran kekeliruan dalam menjawab. Dampak lainnya, ketika nantinya “boroknya” tersingkap, maka kepercayaan orang kepadanya akan terkikis, dusta akan disematkan padanya meski berkata jujur, dan ilmu akan sirna. Sebuah akibat buruk yang muncul dari kedustaan.[1]
Ada fenomena memprihatinkan, tatkala dijumpai orang-orang yang begitu berani “berfatwa” untuk menjawab berbagai persoalan agama. Padahal, latar belakangnya sama sekali tidak mendukung dan tidak memiliki kapabilitas. Bukan berarti Islam hanya monopoli para ulama saja, tetapi pada masing-masing bidang ada pakarnya. Baca lebih lanjut

Sucinya Tangan Nabi (Beliau Tidak Pernah Berjabat Tangan Dengan Wanita Yang Bukan Mahram)

jabat tanganRasulullah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertakwa dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dari ‘Umar bin Abi Salamah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ

Demi Allah, aku orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah. [HR Muslim no. 1863].

Beliau juga merupakan pribadi yang sangat kuat dalam mengendalikan syahwat. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menceritakan :

وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Beliau orang yang sangat mampu mengendalikan syahwatnya [HR Al-Bukhari 1792, dan Muslim 1854]. Baca lebih lanjut