Hidup sebagai taruhan

“Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: sesudah mati, akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan?”

Sadarilah bahwa kehidupan ini sebuah pertaruhan yang akan kita tanggung hasilnya kelak, selama-lamanya. Apa yang akan dipilih:

  1. Golongan orang-orang yang belum mendapat ajaran agama, atau menolak ajaran agama, tergesa-gesa mengambil keputusan bahwa manusia itu sesudah mati hanya akan menjadi tanah, tidak akan menemui kejadian apapun, tidak ada pengusutan dan tidak ada pembalas pahala atau hukuman.
  2. Menuruti ajaran para Nabi, para Rasul dan terutama ajaran Nabi Muhammad Saw, berganti-ganti terus menerus hingga sekarang ini, mereka umat islam mengambil keputusan bahwa manusia itu ada asal-usulnya, sesudah mati akan menerima akibat tingkah lakunya, akan diusut kelakuannya, akan ada pembalasan, pahala atau hukuman, terhadap orang-orang yang berbuat salah, buruk tingkah lakunya, akan mendapat hukuman siksa yang sangat pedih. Kalau hidupnya yang sekali itu sampai sesat, keliru, sampai salah kepercayaannya dan tingkah lakunya, pasti akan salah terka, akan rugi, celaka, dan sengsara selama-lamanya.

“mengertikah engkau, akan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya?” (al-Jatsiyah:23)

Sering, setiap teman-teman Ahmad Dahlan sedang berkumpul, beliau memberikan peringatan demikian.

“Lengah, kalau sampai terlanjur terus-menerus lengah, tentu akan sengsara di dunia dan akhirat. Maka dari itu jangan sampai lengah, kita harus berhati-hati. Sedangkan orang yang mencari kemuliaan di duia saja, kalau hanya seenaknya, tidak bersungguh-sungguh, tidak akan berhasil; apalagi mencari keselamatan dan kemuliaan di akhirat. Kalau hanya seenaknya, sungguh tidak akan berhasil”

Pada suatu hari Kyai Ahmad Dahlan memberi fatwa demikian:

“bermacam-macam corak ragamnya mereka mngajukanpertanyaan soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian: harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?”

Ibaratkan seorang kriminil yang menanti jatuhnya hukuman pengadilan negeri. Tentunya seorang mukmin yang takut akan bahaya maut, takut akan diusut perbuatannya, takut akan diputus perkaranya, takut akan adanya pembalasan berupa siksa atau hukuman, pasti selalu bingung mencari usaha bagaimana caranya mendapat keselamatan, harus kemana-mana bertanya, bagaimana supaya dapat selamat. Tidak cukup hanya kira-kira dan diputusi sendiri. Ingatlah: “Hanya sekali hidup di dunia untuk bertaruh”.

Sumber: pelajaran dari KH Ahmad Dahlan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s