Indonesia Positif

Posted: 22 Agustus 2011 in hasan dan kehidupan

Terlalu banyak informasi negatif yang bertebaran, seakan-akan harapan itu sudah tidak ada…

Kalo saja mau melihat lebih cermat, banyak hal positif dari hasil karya anak bangsa. Indonesia pasti bisa..

Mari kita berpikir positif, asalkan kita mau berusaha, insya Allah harapan itu masih ada!
Cekidot gan!

Mari sama2 membangun negeri, bekerja untuk Indonesia, berpikir positif menuju Indonesia Positif!

Muda, Berkarya!

Posted: 28 Juni 2011 in hasan dan kehidupan

Setiap orang memiliki pilihan dalam menjalani hidupnya, meskipun setiap orang tetap terikat dengan ketetapan yang telah Allah buat. Bagi mereka yang baru jadi sarjana, ada yang memilih untuk melanjutkan sekolah ke S2, ada yang langsung s3 (istri, he), ada yang ke luar negri, ada yang kerja di kantoran, ada juga yang buka usaha (seperti saya, :D ). Pernah baca suatu celotehan yang lumayan bagus, katanya (kamu terlahir miskin itu bukan salahmu, tapi kalau kamu mati miskin itu kesalahanmu”. whehe

Yang muda yang berprestasi. Bro, apapun yang kita lakukan setelah lulus, sudah seharusnya melakukan sesuatu yang luar biasa. Kalau melihat para tokoh muslim terdahulu, banyak yang di usia muda sudah memiliki prestasi luar biasa. Muh Fatih di umur 22thn telah menaklukan konstantinopel, Hasan al banna di umur 22thn mendirikian Ikhwanul muslimin, Utsman bin Zain di umur 18thn diangkat rasulullah untuk memimpin pasukan muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada dalam kekuasaan Romawi (mantep kan bro?).

Ibnu Abbas ra berkomentar: “Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (30-40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan ia dari kalangan pemuda.” Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala, namanya Inrahim.” (QS al-Anbiyaa [21]: 60)

Bro, mereka lah pemuda-pemuda yang patut kita contoh semangatnya, kerja kerasnya, pemikirannya, kekuatan jiwanya dsb.

Di negeri kita saat ini, setiap orang sudah disetting untuk mengikuti sistem yang kaku. Seakan-akan setiap orang baru bisa berkarya jika mereka telah jadi sarjana, yang umurnya udah di atas 22thn. Dan saya termasuk ke dalam daftar orang2 seperti itu. Ya meski demukian tentunya tidak boleh ada yang harus disesali, karena tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin.

Dan di usia yang masih muda ini, saya akan memulai prestasi, demi kesejakteraan orang2 di sekitar saya, dan kelak mereka (orang2 di sekitar saya) pun harus mensejahterakan orang2 yang berada di sekitarnya. Dengan penuh semangat, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

Hasan-Kamil Konveksi

Ingin share tentang sebuah propinsi yang pernah saya kunjungi, di pulau terbesar di Indonesia, ya pulau kalimantan, tepatnya di Kalimantan Barat. .

Kalbar memiliki pesona alam dan mansyarakat yang berbeda dari pulau tempat tinggal saya sekarang. Ada 3 suku besar yang mendominasi, yakni melayu, dayak dan cina. Mereka hidup rukun dengan bahasa yang khas mereka miliki.

Cerita pertama, pengalaman saya  di tempat penelitian, bersama orang-orang gunung suku dayak. Tepatnya di kabupaten landak. Meski jauh dari kota, mereka masih tetap bisa hidup sejahtera.  Mereka hidup bersahaja bersama di pedalaman, dengan kebiasaan adat berburu dan meramu, bertani dengan sistem ladang berpindah,  seakan ingin mengatakan hutanku rumahku.

ini nih foto2 di kec. Meranti, kab. Landak, KalBar

      

mereka juga masih memiliki kepercayaan kepada roh-roh leluhur. sehingga kegiatan adat mereka biasanya selalu diawali dengan permohonan dan perizinan kepada roh leluhurnya. dan kebetulan saya diberi kesempatan untuk ikut dalam upacara adatnya waktu itu. ini nih foto2nya..

        

dan lagi…

        

dan kegiatan sehari2 masyarakat juga mengasikkan, mereka biasa ke ladang untuk bertani padi ladang dengan rangkaian persiapan bertani hingga berbulan-bulan. dari mulai penebangan-pembakaran-pembuatan lubang-penanaman-penyiangan-pemanenan… pokoke ribet dah. ini ni foto2nya…

        

dan lagi2 ikut kegiatan di hutan seperti berburu dan mengambil getah karet. ini nih foto2nya..

           

masih banyak kegiatan seru yang sayangnya tidak terdokumentasi seperti kegiatan di sungai sebagai kamar mandi alam terbuka, menangkap ular, masak bekicot dan katak, lantunan lagu seorang wanita di tengah malam gulita, dan segudang cerita lainnya. Makanya ada keinginan untuk menjelajahi kekayaan alam indonesia di tempat2 yang lain. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk melakukan itu…

Contoh orang Islam yang sesungguhnya ialah yang hanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari lainnya, tidak menyekutukan kepada-Nya, dhahir dan bathin 1000% ialah Nabi Ibrahim a.s. dan pengikutnya, serta Nabi Muhammad Saw. Beserta orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Surat Mumtahanah ayat 4-5: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sungguh jelas dalam ayat ini kita diperintahkan mencontoh dan mengikuti Nabi Ibrahim.

Surat Ali Imran ayat 67: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

Surat Ali Imran ayat 68: “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”

Sesungguhnya Nabi Ibrahim itu menurut perintah dan menyerah hanya kepada Allah, serta beliau memberi wasiat kepada putranya, supaya sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah, dan beliau mengharap kepada anak cucunya hendaklah menjadi orang yang selalu menyerahkan diri kepada Allah.

Surat Al Baqarah ayat 131-132: “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.”

Surat Al Baqarah ayat 128: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang menyerahkan diri kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang menyerahkan diri kepada Engkau…”

Kita manusia apabila mempergunakan akal fikiran kita untuk memikirkan tentang kebenaran alam dan mempebandingkannya dengan keadaan diri sendiri secara berulang-ulang, tentu akhirnya juga mengakui akan adanya kekuasaan yang ghaib, dan seterusnya mengakui bahwa hanya Allah sendirilah Yang Maha Kuasa, Yang Bijaksana, Yang Maha Murah, belas kasihan kepada hamba-Nya, kemudian akhirnya menyembah kepada Allah dan dapat menyerahkan diri dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.

Dan apabila telah menyerah dengan sungguh-sungguh tentu akan menerima ujian, apakah betul menyerahkan diri kepada Allah? Beranikah menyerahkan diri kepada Allah?

Cobalah fikirkan riwayat Nabi Ibrahim a.s. yang telah menyerahkan diri kepada Allah, lalu diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat berat; ialah diperintah untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya.

Surat Shoffat ayat 102: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.”

Demikianlah ibrahim sebelum menjalani ujian menyembelih putranya, sudah diuji dengan menjalankan perintah Allah untuk mencegah kemungkaran (menyembah berhala), maka setelah beliau menjalani ujian ini, beliau mendapatkan ujian lagi yaitu akan dibunuh dan dibakar dalam api oleh raja Namrut.

Surat Al Ankabut ayat 24: “Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.”

Surat Ali Imran ayat 142: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Nabi Ibrahim a.s. setelah sabar dan kuat menerima beberapa ujian yang berat-berat sebagai tanda bukti ketaatan beliau menjalankan perintah Allah, maka Nabi Ibrahim diangkat menjadi Pemimpin agung manusia.

Surat Al Baqarah ayat 124: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.”

Sumber: Pelajaran KH Ahmad Dahlan

Arti Islam Sesungguhnya

Posted: 18 April 2011 in Tarbiyah

Mari bersama-sama mengupas dan meneliti apa arti islam yang sebenar-benarnya. Kami kemukakan dua persoalan yang sangat penting ini, dan kami sodorkan ke tengah-tengah ummat islam pada umumnya.  Di sini kami kemukakan kalimah-kalimah islam yang terdapat dalam Al-Quran.

1. Orang yang menjalankan agama selain agama islam tidak diterima oleh Allah.

Surat  Ali Imran ayat 85: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”

 2. Agama yang benar adalah agama Allah yaitu agama Islam

Surat Ali Imran ayat 19: “Sungguh, agama yang benar di sisi Allah itu adalah Islam.”

 3. Adapun arti Islam ialah: “menyerahkan lahir dan bathin kepada Allah sendiri.”

Surat Ali Imran ayat 83: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.”

Yang tidak menyerahkan kepada Allah ada dua:

1. Syaitan

2. Hati manusia (karena mereka terus-menerus melawan kehendak Allah)

Surat Al An’am ayat 125-126: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”

 Surat Az Zumar ayat 22: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”

Dalam Kitab Hikam karangan Athoilah, menerangkan: “Apabila Allah memberikan kepadamu dalam dhohirmu dapat memegang peraturan Allah, dan di dalam bathinmu dapat menyerahkan diri kepada Allah, maka sungguh Allah akan memberikan nikmat yang besar kepadanya”.

Semua keadaan di alam ini ada dua perkara yang saling timbal balik, ialah seperti ada panas sebaliknya ada dingin, ada sehat dan ada sakit, ada permulaan sebaliknya ada akhir, ada hidup dan ada mati dan seterusnya. Semua kejadian-kejadian ini di dalamnya ada beberapa hikmah yang mesti kita terima dengan ridho. Akan tetapi hawa nafsu sering memilih-milih salah satu saja, ialah memilih hidup tidak suka mati, memilih sehat tidak mau sakit, dan apabila dibikin sakit hawa nafsunya hendak melawan perbuatan Allah. Tetapi kita tidak dapat melawan kehendak Allah, kita mesti akan menjadi tua, akan lemah, akan sakit akhirnya kita mesti mati dengan dipaksa meninggalkan dunia ini.

Terhadap semua itu kita tak dapat menolak, tidak dapat melawan dan kita terus akan masuk dalam paksaan (mau tidak mau, suka tidak suka) mesti meninggalkan dunia dan masuk alam akhirat. Dari itu hendaklah mulai dari sekarang menjalankan latihan menyerahkan diri kepada Allah, menyerahkan hidup mati kita dan menyerahkan harta benda kita kepada Allah. Tunduk di bawah hukum Allah, jangan sampai kita mati tetapi belum dapat menyerahkan diri kepada Allah.

Surat Ali Imran ayat 102:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Demikianlah Arti Islam yang sesungguh-sungguhnya.

Hidup sebagai taruhan

Posted: 15 April 2011 in Tarbiyah

“Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh: sesudah mati, akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan?”

Sadarilah bahwa kehidupan ini sebuah pertaruhan yang akan kita tanggung hasilnya kelak, selama-lamanya. Apa yang akan dipilih:

  1. Golongan orang-orang yang belum mendapat ajaran agama, atau menolak ajaran agama, tergesa-gesa mengambil keputusan bahwa manusia itu sesudah mati hanya akan menjadi tanah, tidak akan menemui kejadian apapun, tidak ada pengusutan dan tidak ada pembalas pahala atau hukuman.
  2. Menuruti ajaran para Nabi, para Rasul dan terutama ajaran Nabi Muhammad Saw, berganti-ganti terus menerus hingga sekarang ini, mereka umat islam mengambil keputusan bahwa manusia itu ada asal-usulnya, sesudah mati akan menerima akibat tingkah lakunya, akan diusut kelakuannya, akan ada pembalasan, pahala atau hukuman, terhadap orang-orang yang berbuat salah, buruk tingkah lakunya, akan mendapat hukuman siksa yang sangat pedih. Kalau hidupnya yang sekali itu sampai sesat, keliru, sampai salah kepercayaannya dan tingkah lakunya, pasti akan salah terka, akan rugi, celaka, dan sengsara selama-lamanya.

“mengertikah engkau, akan orang yang mempertuhankan hawa nafsunya?” (al-Jatsiyah:23)

Sering, setiap teman-teman Ahmad Dahlan sedang berkumpul, beliau memberikan peringatan demikian.

“Lengah, kalau sampai terlanjur terus-menerus lengah, tentu akan sengsara di dunia dan akhirat. Maka dari itu jangan sampai lengah, kita harus berhati-hati. Sedangkan orang yang mencari kemuliaan di duia saja, kalau hanya seenaknya, tidak bersungguh-sungguh, tidak akan berhasil; apalagi mencari keselamatan dan kemuliaan di akhirat. Kalau hanya seenaknya, sungguh tidak akan berhasil”

Pada suatu hari Kyai Ahmad Dahlan memberi fatwa demikian:

“bermacam-macam corak ragamnya mereka mngajukanpertanyaan soal-soal agama. Tetapi tidak ada satupun yang mengajukan pertanyaan demikian: harus bagaimanakah supaya diriku selamat dari api neraka? Harus mengerjakan perintah apa? Beramal apa? Menjauhi dan meninggalkan apa?”

Ibaratkan seorang kriminil yang menanti jatuhnya hukuman pengadilan negeri. Tentunya seorang mukmin yang takut akan bahaya maut, takut akan diusut perbuatannya, takut akan diputus perkaranya, takut akan adanya pembalasan berupa siksa atau hukuman, pasti selalu bingung mencari usaha bagaimana caranya mendapat keselamatan, harus kemana-mana bertanya, bagaimana supaya dapat selamat. Tidak cukup hanya kira-kira dan diputusi sendiri. Ingatlah: “Hanya sekali hidup di dunia untuk bertaruh”.

Sumber: pelajaran dari KH Ahmad Dahlan

Pesan Cinta

Posted: 2 April 2011 in hasan dan kehidupan

Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh

Ingin ku awali surat ini dengan kalimat pengantar suratnya raja Sulaiman kepada ratu Bilqis, kalimat terindah dalam hidup, yang mampu melahirkan semangat besar, kekuatan untuk berkorban, kelapangan hati seluas langit, kalimat penawar candu para pecinta palsu, kalimat surga, Bismillahirrahmaannirrahiim…

Pesan ini untuk mu wahai calon pendampingku. Memang sebenarnya aku pun belum tahu engkau itu siapa, lagi dimana, dengan siapa, sedang berbuat apa? (*jadi inget lagu). Yang ku tahu bahwa Allah telah menyiapkan engkau untukku. Dan yang pasti engkau adalah wanita spesial untukku.

Aku yakin engkau seperti apa yang digambarkan Rasulullah tentang seorang wanita sholihah. Engkau akan menjadi pendamping hidupku, melengkapi kekuranganku, memberikan semangat dalam kehidupanku, indah dalam pandanganku, penyejuk jiwaku, mendidik anak-anak kita, menjaga kehormatan keluarga kita, selalu izin dalam kepergianmu,  dan engkau selalu siap untuk bersama-sama memperbaiki kekurangan bahtera keluarga kita. Kelak engkau akan seperti itu, aku yakin itu. Meskipun di saat ku menuliskan surat ini, engkau belum sesempurna itu. Atau mungkin di awal pernikahanku dengan mu nanti, engkau masih berusaha ke arah itu.

Tidak banyak yang ku harapkan darimu. Meskipun secara manusiawi aku menginginkan  hal “indah” pada seorang wanita.

Aku pun tahu engkau merindukanku sebagai sosok yang dewasa, bertanggung jawab, pemberani, penuh semangat, penuh keteladanan, memenuhi kewajiban, dan dapat memimpin bahtera kehidupan kita hingga sampai di surga kelak. Akan aku usahakan itu. Bukan untukmu, tapi memang sudah menjadi kewajibanku untuk melakukan itu. Maka kelak, disaat engkau temukan aku dalam kondisi yang tidak benar menurut pandangan pedoman kita – al-Quran dan as-sunnah, tolong ingatkan aku! Tapi jika kelak apa yang kamu harapkan, aku tidak dapat memenuhinya karena keterbatasanku, aku berharap engkau dapat memahami aku.

Sebelumnya aku sampaikan maaf pada mu yang mungkin di saat ku menuliskan surat ini, masih memikirkan wanita yang ternyata itu bukan dirimu. Tapi jika memang kelak wanita itu adalah engkau, ingatlah ungkapan Fatimah diawal pernikahannya dengan Ali waktu itu.

Terakhir, ingin ku yakinkan diri dan juga engkau wahai calon pendampingku, bahwa dalam kehidupan ini prinsip kita harus tetap sama. Allah tujuan kita, Rasulullah teladan kita, Alquran pedoman hidup kita, Jihad jalan juang kita, dan mati syahid menjadi cita-cita tertinggi kita.

Calon pendampingmu.

Leadership atau kepemimpinan merupakan sebuah sifat yang sudah seharusnya setiap kita memiliki sifat tersebut. Karena, setiap kita merupakan pemimpin, minimal pemimpin atas diri kita sendiri. Namun, pastilah setiap kita memiliki amanah yang bertanggung jawab terhadap yang lain, yang tidak hanya mengurusi diri kita sendiri, maka setiap kita pastilah pemimpin bagi yang lainnya. Rasulullah SAW pernah bersabda, yang diriwayatkan oleh Umar r.a. ”kalian semua adalah penggembala dan bertanggung jawab atas gembalaannya. Pemimpin adalah penggembala rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Istri adalah penggembala dan bertanggung jawab atas rumah tangga suaminya. Dan, pembantu adalah penggembala dan bertanggung jawab atas harta tuannya.” (HR. Bukhari)

Lebih jauh lagi, disini kita akan mengulas tentang kepemimpinan pada lini yang lebih umum. Ada 3 Pilar sebuah kepemimpinan: 1) Visi Masa Depan, 2) Pengikut Yang Setia, 3) Motivasi dan Stimulasi

VISI MASA DEPAN

Napoleon mengatakan, ”Tiada seorang pun dapat memimpin suatu masyarakat tanpa memberikan kejelasan mengenai masa depan mereka, karena seorang pemimpin, sesungguhnya tak lain dari seorang penjual harapan”.

Visi yang baik haruslah memenuhi lima elemen:

  1. Menjelaskan gambaran masa depan yang diidam-idamkan
  2. Membaca masa depan secara cermat
  3. Menetapkan tujuan yang jelas dan memotivasi
  4. menetapkan standar prestasi dan idealisme yang tinggi
  5. Membangkitkan optimisme dan kesabaran

Menjelaskan gambaran masa depan

Kemuliaan dan keguanaan seseorang tidak dapat disimpulkan dari apa yang sedang dia kerjakan saja, tetapi juga dari apa yang dia harapkan di masa depan. Apabila setiap orang telah meyakini bahwa dirinya penting dan berguna, dan keyakinannya itu terhujam kedalam jiwa, hati, dan ruh mereka, sehingga mereka selalu mencurahkan kemampuan terbaiknya, maka pada saat itulah panji harapan, masa depan, dan cita-cita dapat dikibarkan, karena generasi para pencetak kejayaan telah siap siaga.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan teladan dalam masalah ini. Beliau menggambarkan kondisi islam dalam bentuk harapan di masa depan yang membangkitkan semangat para sahabat. Beliau bersabda,: ”Agama ini akan mencapai semua wilayah yang dicapai oleh malam dan siang. Allah akan membuat agama ini memasuki setiap rumah. Seperti halnya keagungan orang yang agung dan kehinaan orang yang hina, demikian Allah akan mengagungkan Islam dan menghinakan kekafiran” (HR. Ahmad)

Membaca Masa Depan

Rasulullah dengan begitu cermat mengetahui bahwa di masa yang akan datang akan terlahir orang-orang yang menyembah Allah dari orang-orang yang saat itu menghinakan Rasulullah. Sebagaimana pernyataan Rasulullah kepada malaikat jibril yang hendak meruntuhkan gunung kepada orang-orang Thaif yang menolak dakwah. ”Jangan kau timpakan gunung itu kepada mereka, karena aku berharap dari keturunan mereka ada orang-orang yang menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun” (HR. Muslim). Seseorang tidak hanya berpikir untuk menanam benih hari ini, kemudian memanenya hari esok dan memakannya besok lusa. Kemampuan melihat jauh kedepan, mampu memprediksi semua kemungkinan, dan berani mengasumsikan bahwa kemungkinan yang terburuk boleh jadi akan terjadi.

Menetapkan Tujuan yang Jelas dan Memotivasi

Rasulullah dengan begitu mantapnya ketika dalam suatu peperangan, seorang sahabat bertanya ”Apa yang akan kita dapatkan dari peperangan ini?” kemudian Rasulullah menjawab ”Surga!”. Begitulah sikap seorang pemimpin menjelaskan tujuan yang memotivasi anggotanya. Jelas tanpa ada keraguan sehingga membuat anggotanya kembali bersemangat dengan penuh gairah yang menggelora.

Menetapkan Standar Prestasi dan Idealisme yang Tinggi

Malaysia dinilai sebagai negara terbaik yang mampu menyusun langkah strategisnya berdasarkan visi yang jelas serta standar prestasi dan idealismenya yang tinggi. Pada akhir tahun 1985, mereka menyusun visi untuk 10 tahun, yakni tahun 1985-1995. Tujuan mereka pada saat itu adalah menjadi salah satu negara industri. Mereka mampu merealusasikan tujuan tersebut. Hasilnya, angka pertumbuhan ekonomi mereka meningkat dari 1,2% hingga 5%, lalu mencapai 8%. Angka pertumbuhan 8% ini berlangsung terus hingga tahun1995. ini merupakan angka pertumbuhan tertinggi di dunia.

Optimisme dan Kesabaran

Alkisah, Kisra Anusyirwan melewati seorang petani tua yang sedang menanam benih pohon yang takkan berbuah kecuali setelah bertahu-tahun, sehingga boleh jadi petani itu telah meninggal sebelum pohon itu berbuah. Anusyirwan berkata kepada petani itu, ”Mengapa engkau menanam pohon yang buahnya boleh jadi takkan engkau nikmati? Bukankah itu hanya melelahkan diri sendiri?” Petani itu berkata, ”orang-orang yang hidup sebelum kita telah menanam benih pohon, lalu kita yang menikmati buahnya. Karena itu, kita pun harus menanam pohon-pohonan, agar orang-orang setelah kita dapat memakan buahnya”

Itulah suluh perjalanan. Jangan engkau memaki kegelapan, tapi nyalakanlah suluh. Jika masih gelap, nyalakan suluh lagi. Jika pelbagai krisis membelit, ikatannya senakin kencang, tekanannya semakin keras, maka suluh kesabaranlah yang menjaga kita agar tidak tersandung dan terjatuh.

PENGIKUT-PENGIKUT YANG SETIA

”Pengikut adalah elemen penting yang menentukan setiap pemimpin dalam setiap situasi. Pengikut adalah mitra, dan wajah lain dari kepingan mata uang kepemimpinan.”

Warren Blank

Pernyataan Warren Blank ini tidak sepenuhnya benar. Karena kita melihat banyak dari Nabi-nabi yang mereka adalah seorang pemimpin namun mereka tidak memiliki pengikut. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu Alaihu wa Sallam bersabda, ”Ummat-ummat dihadapkan kepadaku. Ada nabi yang diikuti oleh satu orang saja. Ada nabi yang diikuti oleh dua orang. Ada nabi yang diikuti oleh beberapa orang. Dan, ada nabi yang tidak diikuti oleh seorang pun.” (HR. Al Bukhari)

Pada kepemimpinan yang kita bahas kali ini, pemimpin haruslah memiliki pengikut-pengikut yang setia. Sebagaimana Rasulullah  Shallallahu Alaihu wa Sallam yang memiliki para sahabat yang setia.

Sikap seorang pemimpin dan pengikut haruslah selaras. Seorang pemimpin islam mengatakan, ”Renungkanlah dengan pikiran yang jernih, wahai sekalian rakyatku. Bagaimana mungkin kalian memintaku bersikap kepada kalian dengan meneladani Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu Anhu sedangkan kalian tidak bersikap kepadaku dengan meneladani para pengikut Abu Bajar dan Umar?”

Ada tiga syarat utama sifat seorang pengikut.

Pertama, Para pengikut harus mencermati orientasi dan menganalisa perintah pemimpinnya agar yakin bahwa kesemuanya selaras dengan nilai dan prinsip yang shahih. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika perjanjian Hudaibiyah atas hasil keputusan Rasulullah. Umar menanyakan keputusan tersebut dan Rasulullah meyakinkannya.

Kedua, para pengikut harus mengoreksi langkah pemimpin yang menyimpang dari visi, nilai, dan prinsip awal. Seperti yang dilakukan oleh seseorang di awal masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Setelah Umar dibaiat, Umar berkhutbah, ”Jika aku melakukan kebaikan, maka tolonglah aku. Jika aku melakukan kesalahan, maka luruskanlah aku.”. Seorang jamaah berdiri, lalu berkata, ”Wahai Umar, kami akan meluruskanmu dengan pedang-pedang kami ini.” Umar berkata, ”Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diantara rakyat Umar orang yang meluruskan penyimpangannya dengan pedang.

Ketiga, para pengikut harus berinisiatif mengambil langkah-langkah yang benar dan tidak sekedar menunggu perintah. Hal ini dilakukan setelah mereka memahami metode, program, visi, dan nilai-nilai yang menjadi landasan organisasi. Lihatlah apa yang dilakukan oleh Anas bin An-Nadhr pada Perang Uhud. Dia melihat beberapa prajurit Kaum Muslimin meletakkan senjata dan berputus asa. Dia berkata,  ”Mengapa kalian melepaskan senjata? Apa yang kalian tunggu?” mereka menjawab, ”Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah wafat.” Dia berkata, ”Bangkitlah! Matilah demi membela apa yang dibela oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sampai mati”.

Ada lima sikap istimewa seorang pemimpin terhadap pengikutnya.

Pertama, Berinteraksi dengan mereka secara persuasif dan memberikan kepada mereka kesempatan yang luas untuk berdialog, menyampaikan pendapat, dan berdiskusi, bahkan untuk menolak dan mengoreksi kebijakan. Ingatlah kisah dari Al Habbab ketika Perang Badar yang mengoreksi keputusan Rasulullah dan akhirnya memindahkan pasukan muslim untuk berdiam di dekat mata air.

Kedua, Memberikan posisi istimewa yang tidak diberikan kepada orang lain. Misalnya jabatan tertentu atau keikutsertaan dalam majelis pengambilan keputusan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar ketika menjelang wafatnya dengan menetapkan enam orang sebagai majelis permusyawaratan.

Ketiga, Memberikan kebebasan penuh untuk bertindak dan wewenang yang besar untuk melaksanakan tugas, tapi tetap dengan pengarahan, bimbingan, dan pengawasan.

Keempat, Mendelegasikan beberapa tugas dan mempercayakan beberapa rahasia kepada mereka, menjalin hubungan pribadi dengan mereka, memberikan perlakuan khusus, dan menampakkan keistimewaan mereka.

Kelima, Memaafkan kesalahan kecil mereka dan lebih menekankan keistimewaan, prestasi dan dedikasi mereka. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab dalam menyikapi pengaduan seorang penduduk Mesir yang dipukul oleh putra Amr bin Al-Ash. Umar menghukum anak Amr, namun dia tidak melengserkan Amr dari jabatannya.

Berikut adalah sikap-sikap yang dapat membunuh karakter seorang pemimpin:

  1. Menjebaknya dalam rutinitas yang kaku dan iklim kerja yang tegang.
  2. Mengajarinya mengganggukkan kepala tanpa berpikir
  3. Mengajarinya melarutkan kepribadiannya pada figur lain
  4. Membuatnya menentukan tujuan yang tidak realistis
  5. Memperlakukannya Laksana mesin
  6. Tidak menghiraukan dan membuatnya tidak mampu memecahkan masalah
  7. Menisbahkan keberhasilan kepada orang lain
  8. Mempertahankan dan membela jabatan secara mati-matian.

MEMOTIVASI DAN MENYEMANGATI

Memotivasi adalah sebuah usaha untuk membuat orang-orang yang bekerja di dalam satu institusi dengan dorongan internal yang muncul dari sanubari mereka sendiri berada dalam kondisi bersemangat, berhasrat, dan bergembira dalam melakukan pekerjaan..

Usaha memotivasi merupakan satu pilar kepemimpinan yang terpenting. Karena itu, keberhasilan anda meraih penghormatan, kepercayaan, kecintaan, loyalitas, dan produktivitas orang lain akan tergantung kepada kemampuan anda dalam memotivasi mereka.

Teori tebaik dalam memotivasi adalah teori yang menjelaskan bahwa memotivasi mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Menjelaskan visi jangka panjang dan membuat para pengikut meyakininya.
  2. Menjelaskan tujuan dan membantu para pengikut untuk memahami dan memformulasinya sendiri, serta menjelaskan peran mereka dalam merealisasikannya.
  3. Menyediakan ruang untuk partisipasi dan dialog dengan para pengikut dalam membuat keputusan yang menyangkut nasib mereka, dan selalu memberitahu mereka perkembangan keadaan.
  4. Menghormati dan menghargai para pengikut, serta memperhatikan kebutuhan mereka dan menjaga transparansi dengan mereka.
  5. Memberikan wewenang yang luas, dan kepercayaan yang tinggi bagi para pengikut untuk menjalankan tugas mereka sehingga mereka bertanggung jawabatas hasil-hasilnya
  6. Pemimpin menjadi teladan bagi para pengikut, jujur, berakhlak baik, adil, dan rendah hati dalam berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya.
  7. Mengubah titik-titik kelemahan setiap individu menjadi titik-titik kekuatan.

Ada banyak pendekatan dalam memotivasi. Ada orang yang memotivasi dengan gelar-gelar profesional, ada orang dimotivasi dengan penyampaian visi futuristik, dll.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam mencontohkan hal ini dalam mengarahkan setiap sahabat kepada keahlian dan kemampuannya masing-masing. Misalnya, beliau bersabda, “Ummatku yang paling penyayang terhadap umatku adalah Abu Bakar. Yang paling keras dalam menegakkan perintah Allah adalah Umar. Yang paling pemalu adalah Utsman. Yang paling pandai mengambil keputusan adalah Ali. Yang paling mengerti masalah halal haram adalah Muadz bin Jabal. Yang paling mudah memberikan pinjaman adalah Zaid bin Tsabit. Yang paling baik membaca Al-Quran adalah Ubai bin Kaab. Dan, jika setiap kaum memiliki orang kepercayaan, maka orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR.Tirmidzi).

Begitulah Rasulullah yang begitu tepat dalam menggunakan kunci yang sesuai dengan masing-masing individu.

Mencetak Pemimpin-DR.Thariq M. As-Suwaidan

Selamat Tinggal FB

Posted: 18 Juni 2010 in renungan

Selamat tinggal FB…

itu mungkin salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk sedikitnya membantu saudara kita di Palestine. Kenapa kita harus tinggalkan FB? baca ini deh, atau yang ini. Kalo temen2 sudah yakin dan mau delete akun FB-nya, klik disini tapi dengan catatan FB kita aktif. Lebih jelasnya bisa baca di blog ini.

silakan untuk direnungkan kebaikanya. Jika Keluar dari Fb itu baik bagi kalian, maka keluarlah, tapi jika dengan bergabungnya di FB dapat membawa manfaat buat teman2, maka manfaatkanlah.

Pemahaman dan Tujuan

Posted: 29 Mei 2010 in renungan

Cita-cita seseorang memang akan selalu berubah sepanjang penambahan pengetahuannya terhadap sesuatu yang merubah persepsi dirinya.

Dulu saya ingin sekali menjadi tentara. Hidup di hutan rimba beberapa bulan untuk latihan survival, belajar menembak, terjun payung, menyelam, dan juga berkelahi. Terkesan bahwa seorang tentara memang gagah dan tangguh. Tapi sekarang keinginan itu sudah tidak ada. Karena melihat berbagai pertimbangan lain yang sepertinya ada yang lebih baik.

Dalam kehidupan. Sangat perlu kita memahami persepsi kehidupan yang sebenarnya. Bahwa kita seorang makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Menciptakan, memiliki tujuan jelas dalam kehidupan ini denga tujuan yang sudah ditentukan oleh Yang telah menciptakan kita. Kita tidak hanya sekedar hidup untuk makan, mendapat gelar, mengumpulkan harta, menikah dan memperbanyak keturunan. Lebih dari itu tujuan kita dihidupkan. Allah SWT tidak ada tujuan lain menciptakan manusia dan jin selain hanya agar kita beribadah kepada-Nya.

Saya makan, tidur, olah raga, belajar, mencari nafkah, bersedekah, dakwah, menikah, menambah keturunan dsb adalah tidak lain disitu ada nilai ibadah. Mungkin saja saya tidak menghormati dan mencintai orang tua jika memang Allah tidak memerintahkan untuk berbuat demikian.  Saya mengenal kalian, memberikan senyuman, membantu dan menasehati juga bukan keinginan saya namun memang karena Allah lah yang telah memerintahkan untuk berbuat demikian. Saya berjamaah dengan sebuah jamaah, ikut serta berjuang, dsb memang karena itu semua diperintahkan.

Saya merindukan mereka yang mencintai saya. Benar-benar mencintai saya. Mereka yang selalu memikirkan keselamatan saya dan yang lainnya… Terutama dia Muhammad SAW yang hingga akhir hayatnya masih mengingat saya dan mengharapkan keselamatan saya di akhirat kelak. Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam…

Tujuan kita sudah sangat jelas. Tinggal kita menyusun rencana strategi agar kita benar-benar meperoleh tujuan yang kita harapkan. Tidak sekedar mendapatkan apa adanya, tapi juga mendapatkannya dengan memuaskan..